Jakarta – Sistem ekonomi di Indonesia saat ini berjalan berdampingan antara konvensional dan syariah. Namun, Wakil Ketua Umum MUI, K.H. Cholil Nafis, menegaskan bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat mencolok, baik dari sisi proses maupun dampaknya bagi kehidupan.
Kiai Cholil menjelaskan, karakteristik utama ekonomi Islam terletak pada kerangka moral dan etika yang kuat.
“Ini sangat mencolok perbedaannya. Ekonomi menurut Islam tidak semata-mata keuntungan materi, tetapi lebih dari itu, ekonomi adalah sarana untuk membangun ikatan kemanusiaan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Kiai Cholil, Jumat, 27 Maret 2026, dilansir MUI Digital.
Kritik Terhadap Kapitalisme dan Sosialisme
Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI ini juga membandingkan ekonomi Islam dengan dua sistem besar dunia: Kapitalis dan Sosialis.
Menurutnya, sistem Kapitalis cenderung menihilkan peran negara dan memuja pertumbuhan ekonomi sebebas-bebasnya demi profit tanpa ikatan moral. Sebaliknya, sistem Sosialis justru terlalu dominan menguasai aset sehingga memasung hak pribadi individu.
“Islam hadir dengan empat ciri utama: Rabbaniyyah (Ketuhanan), Akhlaqiyah (Moralitas), Insyaniyah (Kemanusiaan), dan Wasathiyah (Keseimbangan),” papar Pengasuh Ponpes Cendekia Amanah ini.
Ekonomi Sebagai Misi Kemanusiaan
Lebih lanjut, Pakar Ekonomi Syariah ini menekankan bahwa dalam Islam, aktivitas ekonomi adalah bagian dari tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, praktik yang menzalimi orang lain sangat dilarang.
“Islam melarang penipuan (gharar), riba, dan judi (maysir). Semua itu hanya menguntungkan pribadi dan merugikan orang lain,” tegasnya.
Satu hal yang unik dalam sistem syariah adalah adanya transaksi yang tidak melulu mengejar untung, seperti skema qardlul hasan atau pinjaman tanpa bagi hasil untuk menolong sesama.
“Ciri keseimbangan (wasathiyah) terlihat di sini. Kita boleh punya harta sebanyak-banyaknya, tapi tetap harus berbagi melalui zakat, wakaf, dan sedekah sebagai hak orang lain dalam harta kita,” pungkas CEO Amanah Zakat tersebut.[]


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy