Alat Dapur Rumah Aceh: Batee Lada, Beulangong, Aweuk hingga Salang

Ilustrasi Batee Lada
Ilustrasi Batee Lada. Foto: Istimewa

Banda Aceh – Hampir semua dapur rumah Aceh pada zaman dahulu tidak dapat dipisahkan dari batee lada. Walaupun seseorang sudah menempati rumah gedung, pemakaian alat ini tidak bisa ditinggalkan. Hal ini tidak lain karena masakan Aceh yang banyak menggunakan rempah-rempah itu mudah dihancurlumatkan dengan batee lada.

Lantas, apa saja alat-alat dapur tradisional lainnya untuk memasak-masak?

Alat memasak-masak ialah alat yang dipakai di dapur untuk memproses makanan mentah menjadi makanan siap dihidangkan. Untuk memasak makanan memerlukan berbagai macam bumbu masak. Bumbu masak bagi masyarakat Aceh perlu disediakan di dapur agar segera dapat dipergunakan pada waktu diperlukan.

Oleh sebab itu, kalau memasuki rumah tangga Aceh, di dapurnya terlihat deretan botol-botol atau kaleng-kaleng kecil berisi berbagai bumbu masak dalam keadaan kering.

Botol-botol tersebut terletak di atas teratak (Aceh: sandeng) dengan isinya antara lain tepung, kunyit, merica, bawang putih, kulit manis, ketumbar, jintan, dan berbagai jenis lainnya yang dapat disimpan lama.

Bagi rumah tangga Aceh sistem penyimpanan bahan-bahan seperti itu hampir terdapat di semua rumah tangga, lebih-lebih lagi untuk menghadapi bulan puasa.

Oleh karena itu, kapan saja mereka mendapat ikan atau daging, tengah hari, sore, dan malam sekalipun, mereka dapat segera memasaknya tanpa perlu menyimpan dahulu sampai dapat membeli bumbu masak di pasar dan kedai-kedai terdekat.

Bumbu-bumbu masak ini biasanya dibeli beberapa bulan sekali ketika ibu rumah tangga berbelanja ke pasar. Mereka membeli untuk dipakai sampai beberapa bulan. Oleh karena itu, kalau mereka berbelanja cukup membeli sayur-sayuran atau ikan saja, sedangkan bumbu telah tersedia di rumah.

Berbelanja ikan dan sayur-sayuran ini lebih mudah daripada berbelanja berbagai jenis bumbu masak yang lain. Tidak heran tugas berbelanja ini dapat diganti oleh kaum pria. Banyak pria Aceh atau pemuda yang dapat berbelanja di pasar-pasar, bahkan para pegawai negeri sekalipun berkeliaran di pasar sebelum pulang ke rumah sehabis bekerja di kantor.

Kebiasaan menyimpan bumbu masak yang lama ini mengharuskan mereka mempunyai alat-alat menyimpan khusus. Alat yang lain cocok adalah botol, karena tidak berkarat. Botol-botol ini termasuk pula alat-alat pokok yang tidak dapat ditinggalkan.

Baca juga: Sekilas Tentang Langay dan Jeungki

Adapun alat-alat dapur untuk keperluan memasak-masak antara lain batee lada (batu penggiling), beulangong (belanga), kaneet (periuk), peunee (cobe), geunuku, cinu, aweuk, reungkan, dan salang.

Batee Lada

Disebut batee lada karena salah satu jenis rempah yang dihancurlumatkan dengan batu ini adalah lada atau merica. Batee lada adalah sejenis batu gilingan yang dapat menghancurkan segala jenis bumbu masak seperti lombok atau cabai, bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan lainnya.

Batee lada terbuat dari sejenis batu yang dipahat sedemikian rupa dengan menambah sebuah batu bulat panjang sebagai penggilingnya. Batu bulat panjang ini disebut aneuk batee lada.

Panjang sebuah batee lada kira-kira 30 cm dengan lebar sekitar 20 cm dan tingginya 10 cm. Sedangkan aneuk batee lada bergaris tengah 7 cm dengan panjangnya selebar batee lada.

Untuk mendapatkan batee lada seseorang membelinya di pasar. Sedangkan penjual memperoleh dari pengrajin khusus. Pengrajin ini tidak banyak kita jumpai lagi. Akan tetapi, karena sebuah batee lada dapat dipergunakan puluhan tahun maka produksinya pun tidak begitu banyak.

Geunuku

Alat untuk mengukur kelapa yang lazim dipakai orang Aceh disebut geunuku. Geunuku termasuk perkakas dapur yang sangat penting. Tanpa adanya sebuah geunuku belumlah sempurna sebuah dapur Aceh.

Pemakaian geunuku hampir merata di seluruh Aceh, terutama Aceh pesisir yang banyak ditumbuhi kelapa. Geunuku terbuat dari balok kayu di mana pada ujungnya ditancapkan sebuah besi pipih bergerigi seperti gergaji yang dinamai mata geunuku.

Panjangnya dari buntut sampai ke atas leher kira-kira 70 cm. Tingginya lebih kurang 20 cm. Sebagai alat pengukur kelapa pemakaiannya sangat sederhana.

Orang yang akan mengukur kelapa cukup dengan menduduki punggungnya kemudian kelapa yang sudah dibelah dua (tanpa kulit luar) digosokkan pada mata geunuku yang bergerigi. Dalam waktu singkat, kelapa siap diparut tanpa harus mencongkel isinya seperti di tempat-tempat lain di luar Aceh. Batok kelapa tetap tinggal utuh bagi keperluan lain terutama untuk bahan bakar.

Untuk memperoleh sebuah geunuku bisa dengan membeli di pasar. Namun, biasanya warga memesan pada tukang-tukang kayu setempat. Biasanya dengan bermodalkan sepotong kayu orang yang memerlukannya mendatangi tukang kayu untuk dibuatkan sebuah geunuku.

Dalam waktu senggang tukang kayu setempat tidak keberatan membuatnya dengan ongkos sekadarnya saja. Adapun mata geunuku yang terbuat dari besi mereka membeli atau memesan pada pandai besi.

Beulangong

Beulangong atau belanga dalam bahasa Indonesia adalah perkakas dapur yang dipakai untuk memasak sayur-sayuran, ikan daging dan lain-lain.

Beulangong terbuat dari tanah liat dengan ukuran bermacam-macam, sesuai keinginan dan kebutuhan pemakaiannya.

Pada umumnya beulangong diperoleh dengan membeli di pasar atau pada orang-orang yang menjajakannya ke desa-desa. Sedangkan penjual itu membeli pada pengrajin.

Tidak jarang penjual beulangong melakukan sistem tukar menukar dengan barang-barang yang lain seperti botol kosong, kaleng dan lain-lain. Kalau penjaja mendatangi daerah pantai tidak jarang mereka mau menukarkan dengan garam.

Baca juga: Permainan Jameun: ‘Meu Geunteut-Geunteut’

Kaneet

[Foto ilustrasi]

Sebagai imbangan dari beulangong adalah kaneet (periuk). Kaneet dipergunakan untuk memasak nasi atau merebus air.

Cara mendapatkan kaneet tidak berbeda dengan beulangong.

Adapun bentuknya sedikit berbeda, yaitu kaneet lebih bundar dan tertutup.

Peunee

Peunee berbentuk piring yang terbuat dari tanah liat. Ukuran sebuah peunee sama seperti ukuran piring makan biasa. Kegunaan peunee selain sebagai tempat makan juga untuk menghaluskan bumbu yang lebih lunak seperti menghaluskan asam belimbing, dan sebagai tempat sayur bagi sebuah rumah tangga yang paling sederhana.

Cinu

Alat untuk menangguk air disebut cinu. Cinu terbuat dari tempurung kelapa yang diberi tangkai. Pada ujung tangkai sebuah cinu dibuat berkait sehingga setelah dipakai dapat mudah digantungkan.

Walaupun ada juga cinu yang dijual di pasar, tetapi cinu biasanya dibuat sendiri.

Aweuek

Kalau sebuah cinu dipakai untuk menangguk air maka aweuek digunakan mengaduk dan mengambil sayuran atau gulai yang dimasak.

Bentuk aweuek seperti sebuah sendok dengan sedikit lebih panjang tangkainya.

Aweuek juga terbuat dari tempurung kelapa. Bedanya dengan cinu adalah kalau cinu bentuknya besar dan bulat, sedangkan aweuek seperti sendok. Untuk memperoleh sebuah aweuek biasanya warga membuat sendiri.

Reungkan

Bahan bakar kebutuhan rumah tangga tradisional adalah kayu. Memasak dengan kayu memberikan dampak sampingan yaitu mengotorkan dapur dan peralatannya. Dapat dipastikan periuk dan belanga cepat hitam. Kalau diletakkan disembarangan tempat maka menyebabkan tempat itu kotor pula.

Untuk mengatasi hal ini maka sebagai lapik bagi periuk dibuat reungkan. Reungkan terbuat dari anyaman daun kelapa. Daun kelapa untuk sebuah reungkan tidak boleh terlalu tua dan juga tidak boleh terlalu muda, tapi yang masih berupa janur. Dengan demikian reungkan dapat bertahan lebih lama daripada memakai daun kelapa sudah tua.

Reungkan termasuk alat dapur yang jarang diperjualbelikan. Ibu-ibu rumah tangga dapat dengan mudah membuatnya.

Salang

[Foto ilustrasi]

Orang Aceh sering menyimpan masakan (gulai) ikan dalam waktu yang agak lama. Ikan-ikan yang telah digulai itu pada saat-saat tertentu dipanasi agar tidak busuk.

Kegunaan menyimpan ini adalah sebagai persiapan kalau kebetulan ada tamu mendadak yang dirasa perlu diberi makan. Sebagai alat menyimpan itu disediakan salang.

Makanan yang berasal dalam periuk atau belanga dengan beralaskan reungkan diletakkan dalam salang lalu digantung di atas dapur.

Salang ada dua macam kalau dilihat dari bentuknya. Salang yang agak besar terbuat dari anyaman rotan seperti keranjang yang bagian atasnya terbuka ditambah tali rotan sebagai gantungan.

Salang yang sederhana terbuat dari anyaman daun iboh (sejenis palam), bentuknya sederhana sekali.[]

Sumber: Buku ‘Isi dan Kelengkapan Rumah Tangga Tradisional Menurut Tujuan, Fungsi dan Kegunaannya di Daerah Istimewa Aceh’. Diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1985. Dikutip Line1.News dari Koleksi Digital Universiteit Leiden.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy